Hey, monyet!
#1
Surabaya, 14 Januari 2012
Dear gadis-yang-enggak-mungkin-balikan-lagi-sama-aku,
Entah sudah berapa lama sejak kukirim surat terakhir untukmu
Hahahaha, aku ingat!
Waktu itu kita berdua masih jadi monyet.
Ya, sepasang monyet gila yang terkurung histeria absurd bernama cinta.
uhuk.. cinta?
Aku masih ingat, waktu itu kamu adalah orang asing.
Aku tak kenal namamu, dari mana asalmu, siapa orangtuamu, parfum apa yang kau pakai, blah..blah.. atau apapun itu tentangmu.
Tapi, hey! Senyuman itu..!
Ya.. senyuman yang mencolok itu..
Senyuman itu seolah memutarbalikkan segala fakta bahwa kita tak pernah saling kenal sebelumnya.
Berawal dari senyummu itu, segalanya terlihat begitu indah.
Baju seragam SMA-mu yang kusut belum disetrika.. indah!
Tas merah yang selalu kamu bawa... indah!
Sebutir nasi bekas sarapan yang menempel di tepi bibirmu... indah!
Indah..indah.. dan indah!
Ah.. itu dulu.
Sekarang kita bukanlah monyet yang sama.
Faktanya, kau adalah orang asing saat kita mengawalinya.
Dan kau kembali menjadi orang asing saat kita mengakhirinya.
Entah, mungkin hari ini aku tak ingin mengingatmu lagi.
"Gengsi" begitulah Joni, 24 tahun, penjaga warkop kenamaan, menyebutnya.
Tapi biarlah surat ini mewakilinya.
Walaupun dia enggan bercerita terlalu banyak.
Aku tak ingin meneruskannya.
Biar imajimu saja yang bermain dan mengajakmu kembali ke masa itu.
Sekian
Terima kasih.
.
.
.
.
Oke aku menyerah.. AKU RINDU..
Surabaya, 14 Januari 2012
Dear gadis-yang-enggak-mungkin-balikan-lagi-sama-aku,
Entah sudah berapa lama sejak kukirim surat terakhir untukmu
Hahahaha, aku ingat!
Waktu itu kita berdua masih jadi monyet.
Ya, sepasang monyet gila yang terkurung histeria absurd bernama cinta.
uhuk.. cinta?
Aku masih ingat, waktu itu kamu adalah orang asing.
Aku tak kenal namamu, dari mana asalmu, siapa orangtuamu, parfum apa yang kau pakai, blah..blah.. atau apapun itu tentangmu.
Tapi, hey! Senyuman itu..!
Ya.. senyuman yang mencolok itu..
Senyuman itu seolah memutarbalikkan segala fakta bahwa kita tak pernah saling kenal sebelumnya.
Berawal dari senyummu itu, segalanya terlihat begitu indah.
Baju seragam SMA-mu yang kusut belum disetrika.. indah!
Tas merah yang selalu kamu bawa... indah!
Sebutir nasi bekas sarapan yang menempel di tepi bibirmu... indah!
Indah..indah.. dan indah!
Ah.. itu dulu.
Sekarang kita bukanlah monyet yang sama.
Faktanya, kau adalah orang asing saat kita mengawalinya.
Dan kau kembali menjadi orang asing saat kita mengakhirinya.
Entah, mungkin hari ini aku tak ingin mengingatmu lagi.
"Gengsi" begitulah Joni, 24 tahun, penjaga warkop kenamaan, menyebutnya.
Tapi biarlah surat ini mewakilinya.
Walaupun dia enggan bercerita terlalu banyak.
Aku tak ingin meneruskannya.
Biar imajimu saja yang bermain dan mengajakmu kembali ke masa itu.
Sekian
Terima kasih.
.
.
.
.
Oke aku menyerah.. AKU RINDU..

0 orang terpuji yg komentar..:
Post a Comment